“Bagiku dia adalah permata yang tak ternilai harganya oleh apapun. Kehilangan dia adalah sebuah bencana besar dalam hidupku. Ia adalah pelipur lara dari kerinduanku akan sosok Nirmala. Wajahnya yang menitiskan sedikit pancaran bidadariku membuat hati tenang dan bahagia bukan main, kepolosannya mengingatkanku pada setiap kejujuran kata yang selalu di ucapkan Nirmala, perhiasan dunia yang di persembahkan Allah kepadaku. Dan benar, kini dia pergi. Mencari sesuatu yang belum ia dapatkan di bawah dekapan pendidikanku.” “Sementara memang, akan tetapi itu terlalu lama bagiku. Nafsuku berkata, biar dia terus berada dalam pelukku, akan tetapi hatiku berkata, ‘kau dan Nirmala membutuhkan doanya, dedikasimu saja tak cukup. Habis sudah nafsuku terbantai oleh rasa cinta hati oleh Nirmala dan putranya, Zakaria.” “Aku kini harus sendiri, menjalani hari dengan jam yang sedikit berbeda. Tidak ada lagi mengantar dan menjemput Zakaria, tak ada lagi mengajaknya berjamaah di surau setiap...
Memberikan cerita, berita dan kebahagian bersama.