Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2019

Mata yang enak dipandang

Badanya lusuh.  Berjalan berdampingan si buta yang lemah. Tubuhnya tak terurus. Jangankan mandi, makan pun belum tentu. Si buta lemah. Mencoba sendiri agar tak di peras si lusuh tapi tak bisa. Si lusuh cari uang dari si buta. Si buta mengais uang dari yang iba. Mengeluh, marah, mendurja dunia. Kereta kelas satu matanya tak peduli Kereta kelas tiga. Matanya enak di pandang dan penuh iba. Si lusuh bergantung pada si buta Si buta bergantung pada si lusuh. Seharian penuh tanpa makanan Seharian penuh mereka tak minta di jalan. Si buta lemah, panas dan sakit karena lelah. Si lusuh kuat, tapi apa daya.  Tanpa si buta mata iba tak banyak bila tak bersamanya. Di paksa. Si buta menyerah. Panas di kepalanya melemahkan tubuhnya. Si lusuh bingung lari ke si buta Membisikan kata yang penuh makna. Ayo ke kereta kelas tiga.  Melihat mata yang penuh iba * Puisi yang terinspirasi dari cerita pendek karangan Penulis Veteran   Ahm...

Aku, kamu dan ia.

19 Juni 2018 Aku melenguh dalam kesalahan diri kepada ia. Wanita mulia yang memendam semua rasa Cinta didada. Seorang wanita yang mencinta dalam pandangan kedua. . Aku menyesal dalam salah yang tak termaafkan. Pada wanita yang cemburuan atas pertemuanku dengan wanita yang bukan biduan. Cuma sekedar teman yang minta curhatannya di dengarkan. . Aku lelah dalam pengejaran maaf dan permintaan untuk tak lagi kecewa. Permintaan tuk tidak lagi memendam kebencian dari Cinta yang telah berubah rasa. . Aku yang sekarang terjatuh jauh. Karena ia yang menjauh dari lelaki yang harus selalu salah tanpa celah maaf yang bisa diterima. . Aku. Sekarang hancur. Lebur dalam dosa. Halus dalam Cinta. Dan bias dalam doa harapan semoga maaf dapat aku terima. .

PAGI BERSAMA ORANG LUSUH

Kulihat dia menangis sambil memeluk kedua betisnya. Tersedu-sedu tak peduli dengan sekeliling yang memperhatikannya. Bajunya tak layak. Rambutnya tak terurus. Tubuhnya terselimuti debu. Ku hampiri. Untuk ku tanyakan kenapa ia menangis di pagi hari. Perlahan ku dekati dan ku sentuh. Aku tanya dia diam. Ku colek dia tak menggubris. Aku jongkok dihadapannya akhirnya dia menghiraukanku. "Kenapa kau menangis" Dia terdiam Sekali lagi aku tanyakan dengan pertanyaan yang sama. Dia tetap terdiam. Setelah lama diam. Dan aku bingung ingin menanyakan apa. Tiba-tiba dia berteriak lantang. "Celakalah bagi dia yang di hatinya tiada rasa cinta kepada ibadah dan tak adanya rasa menyesal ketika meninggalkan ibadah" Setelah berteriak keras. Ia tak sadarkan diri. Seketika hatiku bergetar. Badanku lemas. Air mata mengalir deras. Batinku berteriak "kau belum sholat subuh, kau membenci taraweh".