![]() |
Trump dengan Topeng Trump |
Dalam
pidatonya di Gedung Putih, Rabu (06/12), Presiden Trump mengatakan “sudah
saatnya untuk mengakui secara resmi Yerusalem sebagai ibu kota Israel”. Hal ini
secara instan membuat seluruh dunia
riuh. Pemberitaan dengan cepat menyebar. Bentuk protes terhadap keputusan trump
mencuat.
Penolakan
serta sikap menyayangkan atas keputusan tersebut di layangkan oleh berbagai
kalangan dinegara yang mayoritas islam maupun tidak. Reaksi keras pun
bermunculan. Pembakaran bendera, demo, serta petisi menolak keputusan trump
ramai. Tak terkecuali Indonesia.
Melalui
perbincangan dengan banyak orang di Ramallah, BBC News memperoleh tanggapan
bahwa keputusan Washington telah merusak peluang Palestina meraih kemerdekaan
sebagai negara dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.
"Kami
mengecam keputusan Amerika yang mengakhiri mimpi kami, warga Palestina.
Keputusan itu menyudahi solusi dua negara," ujar Abed Jayussi, warga
Ramallah lainnya.Israel telah menduduki Yerusalem Timur sejak perang Timur
Tengah 1967. Mereka mencaplok wilayah itu pada tahun 1980 dan menganggapnya
sebagai wilayah mereka. Menurut hukum internasional, Yerusalem timur termasuk
wilayah pendudukan.
Status
Yerusalem merupakan jantung konflik panjang Israel-Palestina, karena Israel
mencaplok Yerusalem Timur yang bagi Palestina merupakan ibu kota negara mereka
di masa depan, sementara Israel menetapkan bahwa Yerusalem adalah ibu kota
abadi yang tak dapat ditawar lagi.
Pemerintah
AS sejak tahun 1948 bersikap bahwa status Yerusalem diputuskan oleh negosiasi
dan bahwa mereka tidak akan melakukan tindakan yang mungkin dianggap sebagai
upaya mengarahkan hasil dari negosiasi tersebut.
Berdasarkan kesepakatan damai
Israel-Palestina tahun 1993, status akhir atas Yerusalem akan dibahas dalam
tahap perundingan lebih lanjut di kemudian hari.Namun sejak tahun 1967, Israel
sudah membangun belasan kawasan permukiman -untuk menampung 200.000 warga
Yahudi- di Yerusalem Timur. Langkah itu dianggap melanggar hukum internasional
walau posisi ini selalu diabaikan oleh Israel. Selama ini semua kantor misi
diplomatik di Israel, ada 86, berlokasi di Tel Aviv. Trump mengatakan bahwa
presiden pendahulunya menjadikan pengakuan atas Yerusalem sebagai ibukota
Israel sebagai janji kampanye. “Mereka gagal memenuhi janji itu. Hari ini saya
memenuhi janji,” ujarnya.
Perkataan
tersebut didasari dari histori panjang beberapa presiden amerika yang selalu
menunda keputusan tersebut dengan metanda tangani pengunduran tersebut dan di
perbarui perenam bulan sekali. Sekaligus hal ini adalah bentuk pemenuhan
janji-janji kampaye trump pada pendukung yahudi dan Kristen yang mendukung
yahudi.
Akibat rancunya
hal ini PBB pun membuat voting untuk menentukan sikap atas pengakuan sepihak
AS. Hal ini dilakukan lantaran paksaan dari Negara-negara timur tengah. Dan
akhirnya dalam voting tersebut pbb memenangkan palestina karena 190 lebih
Negara menolak, 13 mendukung dan sisanya abstain.
Akan tetapi
hingga kini. Amerika terus dengan gencar, tanpa mempedulikan keputusan PBB
mendorong Negara-negara yang mendukung mereka untuk memindahkan kedubes dari Tel
Aviv ke Yerusalem. Terakhir yang dengan terang-terangan akan memindahkan
kedubesnya adalah Guatemala yang memang dari dulu terkenal mempunyai kedekatan
dengan AS dan Israel.
Anehnya dengan
kejadian ini Negara Yordania dan Arab Saudi bergeming. Tidak melakukan apapun.
Padahal notabenenya Yordan adalah negara yang berdekatan dengan Palestina. Arab
Saudi Negara yang kuat di timur tengah. Namun revolusi Arab kini memindahkan
prioritasnya dari isu Palestina ke isu soal Iran, terutama di kalangan
negara-negara Teluk. Karena mereka telah membentuk kerja sama intelijen diam-diam
dengan Israel, dan membutuhkan Trump. Jika pemimpin Arab mengeluarkan banyak
pertanyaan soal Yerusalem tapi tak mengambil aksi apa-apa, ini menjadi bukti
bahwa ada Timur Tengah yang baru. Wallahu A’lam Bisshowab.
Comments
Post a Comment